HUjan

Tadinya di dalam kepala saya tertulis sebuah puisi tentang hujan karena hujan pertama di bulan Oktober yang super panas itu sebegitu derasnya. Demikian pula deras kebahagiaan yang mengalir di hati saya karenanya. sekarang bait-bait puisi itu menguap begitu saja karena saya masih berpikir keras sekedar untuk membuka halama wordpress ini kemudian saya harus mencari tombol add new post yang sama-sama bikin saya berpikir dan menunggu lama penuh kesabaran.

Ok, kembali pada hujan. Seakan rasa panas yang membuat frustasi sejak beberapa bulan yang lalu itu luruh begitu saja oleh hujan deras selama setengah jam. yang ada dalam hati saya cuma syukur dan bahagia. Padahal seharusnya saya mendongkol karena saya tidak membawa jas hujan. Demikian pula padi di sawah belum habis dipanen, itu artinya ada kemungkinan padi yang sudah waktunya panen itu terkena banjir, hujan juga bisa berarti anjloknya harga gabah. Ah berapapun harga gabah, zakatnya tetep 5% kok. Tapi tetap saya gembira dan bersyukur atas hujan sore ini.

Oh ya baru saja, beberapa jam yang lalu saya mengobrol dengan kawan sebelah tentang kira-kira kapan datangnya hujan. Kemudian obrolan merembet sampai makna hujan yang berbeda bagi masing-masing orang. Bagi orang di Jakarta hujan berarti kerepotan itu minimalnya, maksimalnya bagi orang Jakarta hujan adalah bencana banjir. Banjir adalah bencana tahunan, semacam rutinitas bagi kota metropolitan terpadat di Indonesia ini. Bahkan sekarang banjir di Jakarta lebih bisa dipastikan daripada berbuahnya rambutan dan mangga di akhir tahun.

Sedang di Jawa timur, Jawa tengah dan Jawa Barat (maaf mindset saya tak bisa berubah dengan pemikiran bahwa jawa itu terbagi 3 zona) terutama di pedesaan, hujan itu berkah. Hujan itu syukur, hujan itu rezeki. Meskipun banyak pedesaan yang tergenang banjir juga karena lenyapnya daerah resapan air di pulau jawa. Ada hadits yang mengatakan bahwa salah satu doa yg mujarab (emangnya obat) adalah doa ketika hujan. Demikian pula di Kitab suci ada ayat tentang hujan yang turun bersama rezeki. Tak bisa tidak saya harus percaya sama kitab suci, karena itu sebenar-benarnya kebenaran.

Jadi kenapa makna hujan bisa sebegitu berubah drastis? bahkan bertolak belakan dengan kitab suci sendiri? Mungkin manusia lah yang berubah bukan makna hujan, bukan pula hujan apalagi air.

Bagi kawan-kawan yang ada di Jakarta semoga masih bisa bersyukur ketika hujan turun, meskipun itu mungkin berarti ancaman bencana. Karena syukur itu lebih bahagia daripada ngedumel apalagi ‘curhat’ di media sosial. Easy for me to say it? Maaf cuma menghibur 🙂

 

ditulis di pojok kantor usai hujan sore ini

Advertisements

About mydamayanti

catatan seorang pelupa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to HUjan

  1. zizaw says:

    kemarin juga hujan di bintaro. alhamdulillah… segar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s