Mushola-mushola Desa

enaknya jadi penumpang, ga perlu perhatiin jalan raya, seperti pagi ini saya berangkat ke kantor diantar jadi bisa liat-liat kanan kiri jalan

tanpa pernah saya sadari di pinggir jalan raya yang tiap hari saya lalui sepanjang satu tahun ini berdiri sebuah mushola bambu, tua reot dan kusam di depan sebuah rumag yang tak kalah usangnya.

apa yang anda pikirkan ketika melihat pemandangan seperti itu? pikiran pertama yang terlintas adalah pemilik rumah ini luar biasa bersungguh-sungguh dengan segala kemampuannya ingin beribadah di mushola. kemudian pikiran saya mulai melayang-layang kemana-mana. segala tentang mushola dan bikan mushola hinggap dalam pikiran saya

tentang rumah ibadah. sebagai masyarakat dengan budaya hindu yang berakar kuat muslim di jawa sengaja atau tidak sengaja masih menjalankan kebiasaan dan tradisi hindu dalam setiap segi kehidupannya. salah satunya tradisi hindu adalah tempat ibadah. rumah-rumah masyarakat hindu di bali (juga jawa) umumnya memiliki satu tempat ibadah yang tempatnya terpisah dari rumah induk. rumah/ ruangan tempat beribadah ini biasanya berada di salah satu sudut halaman rumah (ga tau kanan atau kiri). kebiasaan ini msih berlanjut hingga agama hindu sebagai agama negara dan mayoritas digantikan dengan islam. orang-orang islam yang cukup mampu baik lahir maupun batin  banyak yang membangun mushola kecil di sudut barat halaman rumahnya. mushola ini difungsikan sebagai tempat beribadah keluarga dan kadang tetangga terdekat. tak jarang jarak antara mushola satu dengan yang lain cuma terpaut tak lebih dari 5 rumah. contohnya di desa saya. dalam satu RW terdapat 7 mushola kecil, untuk sebuah lingkungan yang jumlah penghuninya tidak sampai 60 rumah. mushola-mushola tersebut sebagian besar terbuat dari gedeg dengan tiang dari bambu dan lantai dari kayu.

Pada masa saya kecil mushola-mushola kecil itu masih berfungsi sebagai tempat shalat berjamaah dan pengajian dan belajar al quran terutama pada bulan ramadhan. ah jadi terkenang ramadhan masa kecil kan. so sweet ….  damainya masa lalu tanpa hedonisme konsumerisme dan globalisasi

mirisnya mushola-mushola itu lama kelamaan terbengkalai sebagian karena sudah tak terpakai sebagai tempat ibadah. para pendirinya telah meninggal dan tidak dilanjutkan oleh para keturunannya

kemudian saya teringat sebuah cerita,

konon pada masa orde baru sehabis peristiwa 1965-1966 ketika terjadi pembersihan terhadap unsur-unsur PKI, mushola desa juga punya fungsi ganda. selain sebagai tempat ibadah, mushola juga menunjukkan bahwa rumah-rumah terdekat dengan mushola aman terhadap kecurigaan sebagai anggota atau simpatisan PKI. mushola desa merupakan simbol ideologi penduduk di sekitarnya. Jadi mushola dijadikan pula sebagai perisai bagi pemilik dan keluarganya dari kecurigaan sebagai anggota PKI. tapi bagaimanapun juga orang-orang yang shalat di mushala kecil kemungkinannya untuk bersinggungan dengan PKI, karena konon islam adalah musuh utama PKI, sampe bunuh-bunuhan gitu

by the way kapan saya bisa ke monumen kresek?

Advertisements

About mydamayanti

catatan seorang pelupa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s