Stress dan depresi

Jujur saja saya tidak terlalu mengerti definisi pasti stress dan depresi. Demikian pula perbedaan dari ikedua kata tersebut saya jaga tidak benar-benar tahu. Maka sebagaimana telah jamak terjadi di masa kini saya juga mengatakan sesuatu yang tidak saya

pahami.meskipun bagi saya memalukan ini sudah syah.tuh kan jadi ngelantur

Saya tidak akan bicara soal caleg yang stress,itu sih sudah banyak dan biasa. Ini juga bukan tentang orang stress karena cinta,itu sih so yesterday. Saya mau cerita soal kucing stress. Hewan stress udah biasa sih tapi ga papa kan saya tulis soalnya ini adalah 2  kucing stress yang mirip kasusnya.

Pada suatu ketika hiduplah seekor kucing betina yang cantik. Bulunya berwarna hitam putih matanya bulat cemerlang tubuhnya montok tingkahnya lincah dan ceria. Kucing ini hidup di lingkungan sebuah kampus kecil tak terkenal di pinggiran kota Jakarta. Oleh anak-anak kampus kucing ini dipanggil ‘ANIS’ entah karena dia manis atau karena dia mirip mas anis salah satu mahasiswa di kampus itu.

Suatu ketika kecantikan anis menarik kucing jantan hingga akhirnya terjadilah perkimpoian kucing yang menghasilkan anak2 kucing yg lucu. Anis gembira sekali memiliki anak2nya,tapi entah mengapa anak-anak kucing itu mati satu per satu. ANIS kemudian menghibur diri dengan kimpoi lagi dengan salah satu kucing jantan yang beredar di kampus hingga melahirkan anak2 kucing baru. Anis mulai terhibur lagi oleh kehadiran anak2nya. Tapi tragedi yang sama terulang lagi,anak-anak anis mati satu per satu. Tragedi ini membuat anis sedih bukan kepalang,bukan sekedar sedih anis bahkan depresi

Sejak tragedi kematian anak-anaknya yang kedua anis tampak lesu,pendiam dan pemurung.anis tak pernah lagi bergembira bersama mahasiswa kampus itu. Sehari hari yang dilakukan anis hanya duduk termenung di ruang pusat kegiatan mahasiswa. Ketika diberi makan anis hanya makan sedikit. Meskipun anis tak ceria lagi dia masih tetap disayang dan dirawat. Meski kurus kusut dan murungANis tetap mewarnai hari2 mahasiswa hingga ajalnya tiba

Kucing kedua, sebut saja namanya si Mei-mei. Dia cuma kucing kampung tak bertuan yang tampangnya kusut masai. Tampaknya oleh sang pemilik lama kucing ini dibuang begitu saja di sebuah perkampungan kecil yang dikelilingi oleh sawah yang cukup luas.

Karena tak tega salah satu penduduk kampung kadang memeberinya makan sehari sekali ato beberapa hari sekali. Saking kelaparannya si Mei-mei ini bisa makan nasi dengan lauk sayur bayam. Anggap saja emansipasi kucing. Kali aja dia pengen jadi manusia yang nikmat makan sayur bayam bening di siang yang panas. Tapi sekedar itu yang bisa dilakukan penduduk kampung itu, si Manusia tak bisa memberi tumpangan tempat tinggal pada si Mei-mei karena takut tertular virus Toksoplasma, Rubella dan kawan-kawannya karena kondisi si Mei-mei yang super dekil mengindikasikan kandungan virus yang dibawanya. SEbagai kucing buanagn si Mei-mei bernasib sebagai tunawisma

Tak tahu mengapa dia dibuang, mungkin karena kucing ini terlalu rajin beranak. Andai si Mei-mei terawat mungkin dia cukup manis dengan warna corak telon hitam putih oranye. Tak lama dalam pembuangan si Mei-mei langsung saja beranak. Tapi karena statusnya sebagai tunawisma maka anak-anak si Mei-mei satu persatu mati juga karena sering kehujanan. Berkali-kali si Mei-mei beranak dan anak-anaknya mati. Setelah sekian kali mengalami tragedi si Mei-mei akhirnya jatuh juga, seluruh ketegarannya runtuh ketika anaknya yang terakhir mati terlindas mobil di car port. Dasar kucing kecil tak berpengalaman sukanya nongkrong di bawah mobil parkir.

Semenjak kematian anaknya yang terakhir si Mei-mei suka mengeong dengan melolong-lolong di malam hari. Mungkin kesunyian malam menambah efek dramatis dari suara meongnya sehingga terdengar seperti ratapan. Masa iya kucing meratap sih? Hingga hari ini si Mei-mei masih suka meratap-ratap di malam hari. Saya  ngga tahu kalo siang apakah dia juga meratap-ratap seperti itu soalnya di siang hari dia lepas dari pengamatan saya.

Jadi jangan salahkan orang-orang yang stress ya, kucing aja bisa stress apalagi manusia.

Tapi manusia kan paham Tuhan dan kucing engga.

Tapi itu tergantung jenis manusianya juga, apakah dia manusia yang lebih mirip kucing atau manusia yang malaikat wanna be

Advertisements

About mydamayanti

catatan seorang pelupa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s