Mental Penjarah?

Duh…saya bingung mau menjuduli apa cerita saya berikut ini jadi lah judul jelak itu satu-satunya yang terlintas di pikiran saya. Yah cerita sebenarnya mungkin tak seburuk judulnya tapi saya tak bisa menemukan kata-kata yang lebih sopan untuk menggambarkannya.

Kejadian ini terjadi kemarin pagi ketika saya hendak berangkat menuju tempat kerja tepat di depan pondokan (lebih mutakhirnya kos-kosan) saya. Matahari memang belum terlalu tinggi pagi masih dingin. Apalagi sekarang memang musim kemarau paling kering, orang jawa menyebutnya mangsa bediding, dingin sangat mulai dini hari dan panas terik pada siang hari. Jalan raya depan pondokan saya juga agak sepi karena sekarang libur sekolah.

Sebelumnya saya tak mendengar suara apapun sampai ketika saya membuka pintu rumah pondokan dan mendengar ramai orang berbicara di depan pondokan. Tidak biasanya daerah sekitar kos ramai orang kecuali ada pekerjaan perbaikan jalan di situ atau ada kecelakaan lalu lintas sesuatu yg agak sering terjadi di kota kecil ini. Benar saja ketika saya keluar gerbang saya lihat hamparan batang-batang tebu berserakan memenuhi 75 persen badan jalan.

Ternyata ada truk pengangkut tebu yang menjatuhkan muatannya. Saya dengar bu joko tetangga depan pondokan menceritakan pada orang lewat dan menunjuk ke sebuah truk warna coklat kusam yang berhenti sekitar 200 m dari situ. Beberapa pengendara sepeda motor berhenti sekedar melihat TKP. Beberapa tetangga berkerumun memandangi batang-batang tebu yang berserakan.

Dua orang lelaki yang nampaknya supir truck dan keneknya nampak menyingkirkan tebu-tebu yang berceceran ke pinggir jalan. Hanya berdua tak ada yang membantu. Padahal saya tau pasti itu bukan pekerjaan ringan sama sekali. Saya lihat beberapa laki-laki diantara kerumunan itu sebagian warga setempat sebgian pengendara yang lewat. Beberapa motor dan mobil sekedar lewat tampak tak tertarik tapi lebih banyak yang sengaja berhenti menonton

Yang menjadi perhatian saya banyak penonton itu mulai memunguti tebu-tebu itu. Awalnya saya kira mereka membantu mengumpulkan dan menyingkirkan tebu-tebu itu ke pinggir jalan. Banyak diantara penonton itu menyarankan untuk mengambil tebu itu untuk mereka sendiri dengan dalih mereka semua berhak atas tebu yang tumpah dari truck itu. ‘Ayo njupuko nek doyan, seger kui nek aku doyan yo njupuk tapi aku ra doyan’kata seorang perempuan pengendara sepeda. ‘ayo ndang dho njupuk’ kata bu joko. Beberapa lelaki tampak sibuk memilih tebu dan mencari2 tali untuk mengikat tebu yang mereka ambil. Supir bis dan keneknya masih sibuk menyingkirkan tebu yang berserakan ke pinggir jalan ketika yang lain memungut tebu untuk dibawa pergi. Kebetulan pagi itu saya memakai rok panjang yang agak kepanjangan justru sibuk menyelamatkan rok dari tersangkut batang tebu ketika lewat. Bahkan saya bisa menyelipkan diri diantara orang2 yang mengambil tebu untuk bisa lewat berangkat ke tempat kerja.

Saya buru-buru pergi, sebal melihat pemandangan itu. Tak ada yang berinisiatif membantu supir dan kenek menyinkirkan kekacauan. Inisiatif yang muncul justru keinginan dan ajakan untuk menjarah barang orang lain ketika pemiliknya masih berada di situ sedang butuh pertolongan. Tetap kedua supir dan kenek itu berusaha sendiri mengumpulkan angkutan mereka yang jatuh ketika para penjarah berkerumaun mengambil barang mereka

Ternyata budaya tolong menolong dan gotong royong sudah menguap sedemikian rupa berganti dengan budaya penjarah. Tak bisa saya pungkiri saya termasuk orang yang tidak membantu, tapi paling tidak jangan jadikan musibah orang lain sebagai tontonan bahkan keuntungan

Advertisements

About mydamayanti

catatan seorang pelupa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s