Hidup Lajang.Mudahkah?

Well,dari judulnya sudah bisa ditebak apa yg bakal saya curhatkan kali ini.Hidup melajang,siapa yang tidak pernah mengalaminya? Sebagian orang menjalani kehidupan sebagai seorang lajang dalam waktu singkat sebagian lagi harus menjalaninya dalam waktu yang lama bahkan sangat lama.Hidup melajang memang pilihan dan hak pelakunya tapi saya kira tak sedikit pula orang yang hidup melajang juga memiliki keinginan untuk menikah cepat atau lambat.

Menjadi seorang lajang memang menyenangkan sekaligus menantang. Umumnya lajang memiliki kebebasan yang mendekati mutlak, jadi mereka bisa melakukana apa saja yang diinginkannya. Lajang memiliki kebebasan memilih dan mengejar ambisi-ambisinya tanpa harus mempertimbangkan pilihan dan faktor diluar dirinya. Seorang lajang bebas belajar apa saja,memahami apa yang diinginkan dan bebas mencari apa yg diinginkannya. Tapi tentu saja bagi sebagian lajang kebebasan (hampir) mutlak itu memiliki batasan yaitu norma dan kemampuan diri,psikologis,fisik,emosional bahkan finansial

Tak jarang para lajang terbuai dengan kebabasan itu. Sibuk mengejar impian-impiannya hingga waktu berlalu begitu cepat. Mereka lajang dengan kemandirian luar biasa, penuh energi dan motivasi. Bagi lajang jenis ini apa kata masyarakat tidak leboih penting dari pendapat dan kebahagiaan pribadi masing-masing

Hidup seorang lajang penuh kebebasan tapi juga ada tantangan.Perlu keberanian lebih banyak untuk menjadi seorang lajang yang mengejar cita-citanya. Lajang berarti berjuang seorang diri tanpa ada seseorang yang melindungoi di belakangnya. Perlu tekad yang lebih banyak bagi seorang lajang untuk memperjuangkan hidupnya karena tak ada motivasi lain selain dirinya sendiri

Ada pula yang hidup melajang bukan sepenuhnya karena pilihan. Lajang yang belum bisa menikmati kelebihan yang dimilikinya. Lajang ini terus menerus risau ingin menemukan cinta sejatinya agar bisa melepaskan status lajangnya. Bukan berarti mereka bujang tak laku meskipun biasanya begitulah label yang ditempelkan pada diri mereka. Sebagian masyarakat yang lebih sopan menyebut mereka belum mendapat jodoh yang sesuai. Lajang ini lupa menikmati apa yang dimilikinya karena sibuk mengejar masa depan

Satu tantangan besar menjadi lajang adalah berani menerima hinaan dari masyarakat apalagi bila usia bukan lagi tergolong remaja. Bagi lajang yang telah memiliki karir dan sedikit kemampuan finansial dia akan menjadi sorotan orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang menganggap pernikahan sebagai tujuan pokok tunggal hidup minimal akan menyalahkan lajang berkarir

Yang lebih buruk lagi para lajang biasa disebut sebagai bujantg lapuk atau perawan tua. Anggapan yang menganggap bahwa laki’laki harus sudah menikah pada usia sekian dan wanita harus sudah menjadi istri sebelum berumur tertentu sebenarnya sudah primitif. Usia wajar untuk menikah tak pernah pasti kecuali bila didasarkan pada kedewasaan menurut ukuran biologi yaitu bisa ber reproduksi. Tapi sungguh masyarakat biasanya nyinyir pada sesuatu yang berbeda termasuk lajang

Yang paling buruk adalah lajang cnderung dipersalahkan bila ada hal buruk yang menimpa mereka yang menikah. Lajang kadang dipandang rendah oleh masayarakat yang berpikiran sempit karena lajang tidak laku.Lajang yang lebih tua dianggap sebagai makhluk afkiran karena tak ada yang mau menikahinya. Lajang biasa dipandang dengan tatapan curiga. Ada ketakutan tersendiri terhadap para lajang yaitu bahwa mereka akan merebut pasangan orang lain. Tatapan curiga itu akan lebih tajam kepada lajang yang pernah menikah.

Di masyarakat cina kuno seorang lajang yang pernha menikah dianggap pembawa sial. Di desa-desa jawa lajang yang pernah menikah bahkan dianggap murahan dan bisa dibeli. Tak jarang pula lajang dianggap memiliki orientasi yang berbeda. Buruknya anggapan itu mengakibatkan buruknya perlakuan masyarakat pada para lajang

Jadi tak mudah hidup melajang.Berhentilah memandang lajang dengan pandang curiga. Berhenti melihat mereka dengan tuduhan buruk. Karena bisa jadi lajang itu adalah keluarga adik, kakak, paman atau bibi

Advertisements

About mydamayanti

catatan seorang pelupa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s