Usai Hujan Malam Ini (Tuhan, Sungguh Aku Mencintainya)

Bumi masih menguarkan aroma khasnya. Semerbak  menenangkan yang hanya bisa dirasakan di musim penghujan seperti ini. Rintik kecil baru saja usai. Tetes-tetes kecilnya membelai spora di udara hingga menggeliat nenaburkan aroma damai ini. Rinai malam ini meninggalkan jejak pekat dan hening yang lembut. Kehalusannya membelai jiwaku yang merindu. Hujan malam ini memberikan kesempatan  langka bagi malam untuk memenangkan diri dari polusi yang biasa. Bising layang-layang besar yang dipanjar dengan lampu berkedip bak bintang. Suara-suara dan pemandangan plastik lenyap malam ini. Mungkin orang-orang yang biasa menaikkan layang-layang itu sedang menikmati sejuk rinai yang baru saja reda hingga lupa menaikkan lagi layang-layang mereka.

Pekat hening dan aroma segar ini kunikmati dengan senyum. Seorang diri hanya ditingkahi derit jengkerik yang samar. Entah mengapa damai indah ini membersitkan anganku hingga serta merta kuberkata pada-Mu, “Tuhan, sungguh aku mencintainya”. Seketika senyum tersungging tanpa sadar di wajahku. Kuhirup lagi segar udara surgawi ini dan kupandangi lepas-lepas pekat malam lalu kubisikkan lagi, “Aku mencintainya, Tuhan”

Tak bisa kupahami diri mengapa tersenyum meski kutahu pasti dia tak ambil peduli dengan diriku dan perasaanku. Hanya Tuhan tempatku mengadukan segala hal akhir-akhir ini yang tahu pasti perasaanku, ketakutanku dan harapanku. Kalimat-kalimat remeh temeh yang sering kukatakan pada Tuhan, “Aku mencintainya”, “Aku merinduinya”, “Aku gembira,makasih ya” bahkan kalimat konyol “hore,trimakasih ya Tuhan” pun kuucapkan pada-Nya

Aku mencintainya, kukira dia tahu meskipun dia tak tahu pasti kesungguhan dan bagaimana cintaku padanya. Yah, karena dia mengingkari dan menyangkalnya. Ini bukan cinta yang platonis, walaupun mungkin berawal begitu. Dia tak peduli dan tak mau tahu sebesar apa cinta ini sebagaimana dia tak terlalu mempedulikanku

Aku mencintainya, tiba-tiba saja begitu tanpa kusadari bagaimana dan kapan itu terjadi. Tak ada alasan dan tujuanku mencintainya. Aku mencintainya tanpa ada yang bisa kukagumi pada dirinya. Meski kutahu dia tak peduli,Aku tetap saja begitu. Aku mencintainya meski tak banyak kata kuucap padanya. Dalam sunyiku sering kuberbisik dalam hati, “Aku mencintaimu”. Tanpa keinginan untuk menyentuhnya seujung kuku, rindu ini menggebu. Berharap ada di sisinya, merasakan lagi damai itu. Merasakan selarik pantulan bias surga yang damai ketika bersamanya. Merindukan tenteram jiwa ketika di sisinya. Hanya terdiam duduk di sebelahnya memandangi hiruk pikuk kota membuat jiwaku tenang bagai dalam buai surga

Aku mencintainya, perasaan ini membuatku merasa menemukan bagian jiwa yang kemarin tiada. Jiwa yang lenyap tercabik sengsara dan dosa. Mecintainya membuatku tersadar aku masih diriku yang memiliki cabikan jiwa itu. Mencintainya membuatku menemukan diriku

Aku mencintainya meski tak ada asa yang berani kusampirkan atasnya. Tak berani berhasrat milikinya tapi mimpiku kuberikan hidup untuknya. Selamanya

Advertisements

About mydamayanti

catatan seorang pelupa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Usai Hujan Malam Ini (Tuhan, Sungguh Aku Mencintainya)

  1. brutus kodiak says:

    eaaaaaaaaaaaaa

  2. tian says:

    cinta mmg aneh..tp itulah cinta yg murni..tanpa muatan..tak berharap..hanya ikhlas,hmm..jd pengen ngerasain rasa itu lg..(sorry yaa klo bnyk baca tulisanmu..)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s