Peri di Wajahnya

Telah lama aku mengenalnya. Dia adalah teman sepermainanku sejak kecil. Kami memang sering sekali berjumpa. Setiap hari. Hampir sepanjang waktu kami bersama tapi tak pernah kuperhatikan wajahnya dalam sejarah panjang kebersamaan kami. Hingga suatu ketika, saat kupandangi foto-foto kami. fItu adalah foto-foto perjalanan hidup yang kami tempuh selama ini. Aku seketika menyadari begitu indah wajahnya. Sahabatku. Saudaraku.

Wajahnya memang sederhana. Wajahnya sangat sederhana sebagaimana hidupnya dan juga impiannya. Pikirannya pun begitu amat sederhana, berindak tanpa menyakiti dan merugikan siapapun. Berkeinginan sederhana yaitu bahagia untuk semuanya. Hidupnya sederhana tak pernah benar-benar tertarik dengan hiruk-pikuk hedonisme dunia meskipun itu membuatnya menjadi makhluk yang aneh. Yah, dia memang aneh dengan gaya berpakaiannya yang selalu ketinggalan zaman. Culun, itu yang orang-orang katakan tentang dirinya. Dia suka bersepeda ketika banyak orang menganggap bersepeda adalah hal memalukan dan menunjukkan kemiskinan. Dia lebih suka makan di warung tenda pinggir jalan ketika berwisata kuliner adalah gaya hidup yang dibanggakan di dunia nyata dan dunia maya. Dia hanya menyukai dan menginginkan apa yang disukainya dan sesuai untuknya. Yah, mungkin karena kesederhanaannya yang terlalu itu tidak cukup memberi motivasi untuk berbuat lebih banyak dan lebih besar dari yang dia miliki saat ini

Wajahnya sangat sederhana. Tanpa polesan riasan mutakhir yang diimpikan setiap manusia laki-laki maupun perempuan. Wajahnya sederhana pada diri sederhana yang berpakaian sederhana. Seorang apatis dunia yang  mutlak. Dia tak memperdulikan apapun selain dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Sedikit orang-orang sengsara dan korban bencana di sisi dunia lain lewat receh-recehnya yang tak seberapa. Dia tak peduli kata orang tentangnya

Wajahnya terlalu sederhana. Dahi yang biasa, alis yang biasa, mata yang biasa,pipi yang biasa,hidung pesek yang biasa, bibir yang biasa, dagu yang biasa. Tubuhnya pun biasa saja. Tak seindah Kim Kardashian yang seksi itu, tidak pula setipis supermodel yang mengagumkan. Tak molek dan tak menggoda. Tapi sahabatku itu tetaplah ciptaan Tuhan yang indah. Apalah manusia hingga berani menuding ciptaan manusia sebagai cacat atau buruk

?

Dalam sederhana kulihat keindahan seorang peri dalam dirinya. Tidak, bukan karena dia cantik luar biasa seperti Arwen peri putri raja peri di Lord of the Rings yang cinta dan kecantikannya luarbiasa. Dia adalah peri dalam dirinya sendiri. Peri yang sederhana lincah yang selalu tertawa dan sering bergerak. Seperti Tinkerbell yang sederhana dan ceria. Tinkerbell yang selalu ingin membantu meskipun tidak jarang menimbulkan kekacauan karenanya

Yah…keceriaan. Keceriaannya itu tampak seperti peri mungil yang menari-nari diantara bebungaan di padang rumput. Berlompatan diantara pepohonan dengan sayap transparan yang selalu bergetar. Keceriaaannya selalu membuatku tersenyum bila melihatnya. Keceriaan yang sangat kekanak-kanakan itu tak pernah disembunyikannya. Dia tak pernah mau repot menjaga citranya, tak peduli ingin disebut anggun atau elegan. Dia lebih suka menularkan sifat kekanakannya meskipun hampir tak pernah berhasil.

Dia selalu tersenyum. Apapun yang dihadapinya, mudah maupun sulit. Ada yang berbeda dengan senyum itu. Ketka dia tersenyum bukan hanya bibirnya yang tersenyum tapi seluruh wajahnya. Matanya berbinar gembira ketika dia tersenyum. Binar mata dalam senyumnya seakan memancari sekelilingnya membuat dunia ini lebih cerah seketika. Ketika wajahnya tersenyum maka dia akan menulari dunianya untuk tersenyum bersamanya. Maka dunia akan tesenyum dan bergembira bersamanya. Ada yang berbeda dengan caranya tersenyum. Senyum itu terpancar di matanya. Senyum itu bukan cuma pura-pura seperti senyuman di gambar-gambar dan di televise. Mungkin itulah yang membuat senyumnya menular pada dunia

Dia juga mengajak orang-orang di sekitarnya selalu tertawa. Sering tak kupahami bagaimana dia bisa mentertawakan apa saja. Dia selalu menemukan humor pada hal yang peling sederhana sekalipun. Dia bahkan bias mentertawakan kemalangan pada dirinya sendiri. Selalu. Dia akan tertawa terbahak-bahak ketika orang lain pada situasi yang sama dengan yang sedang dihadapinya. Dan sahabatku itu akan mengajak semua orang mentertawakan apa yang ditertawakannya

Namun kadang, hanya kadang-kadang dia menangis. Menangisi keharuan, menangisi kebahagiaan yang terlalu. Berlawanan dengan kemampuannya mentertawakan segala hal dia juga bias menangisi seekor anak kucing yang sedang kedinginan. Maka di situlah aku ada dan dibutuhkannya. Ketika dia menangis aku akan di situ menghiburnya dan membantunya menghapus air mata. Aku selalu temaninya sepanjang waktu dalam diamku.

Itulah sahabatku yang berwajah peri. Aku selalu bersamanya menemani hari-harinya sunyi senyap. Keheningan yang tak menyurutkannya dari keceriaan dan kegembiraan. Dunianya hening karena tak ada yang bias di dengarnya. Sahabatku yang tak pernah tahu arti kata suara tapi menebar bahagia. Sahabatku yang menebar bahagia bak seorang peri kecil.

Advertisements

About mydamayanti

catatan seorang pelupa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s