Penggalan Terlupa dari Cerita Panji

Kediri memang sebuah kota yang membanggakan dirinya sebagai TKP dongeng Panji yang terkenal. Sebagaimana namanya, Kediri memang dahulu pusat sebuah kerajaan yang cukup besar pada abad ke-10 hingga awal abad ke 13. Banyak cerita dalam sejarah baik itu dongeng yang abadi melalui bergenerasi mulut yang menceritakannya maupun kisah yang sengaja ditulis dalam rontal-rontal maupun prasasti batu pada masa lalu. Terlepas dari sejarahnya, di kota kediri tak nampak satupun sisa-sisa kerajaan Kediri yang cukup mashur itu. Sedikit sisa-sisa masa lalu hanya nama-nama dusun yang masih menggunakan nama sesuai fungsinya pada masa lalu misalnya Bandar, Setono Gedong, Patihan yang juga banyak ditemukan di daerah-daerah bekas pusat kerajaan masa lalu

Kembali ke Panji.Siapa Panji? sebelum bicara tentang Panji saya harus berputar menceritakan tentang Kerajaan Kahuripan . Kerajaan Kahuripan dibagi wilayahnya oleh Airlangga menjadi dua karena dua putranya berebut tahta. Kerajaan kahuripan  sebelah barat dinamai Panjalu, beribukota di Daha atau Kediri saaat ini dan dikuasai oleh Raja Sri Samarawijaya. kahuripan sebelah timur dinamai Jenggala beribukota di bekas ibukota Kerajaan Kahuripan yang lama dirajai oleh Mapanji Garasakan. Sejarah lebih mengenal Kerajaan Panjalu sebagai Daha atau Kadiri dan nama kerajaan jenggala  hampir dianggap tidak ada karena dalam perkembangannya Kerajaan Jenggala gulung tikar dan tidak meninggalkan warisan maupun catatan apapun.

Panji Asmara Bangun atau Raden Inu Kertapati adalah putra dari Raja Sri Samarawijaya dari Panjalu dan digadang-gadang sebagai putra mahkota yang akan menggantikan ayahnya memimpin Kerajaan Kadiri. dalam cerita rakyat dikenal sebagai Ande-ande Lumut.

Cerita Panji berpusat pula pada Dewi Sekartaji, sang putri mahkota dari Kerajaan Jenggala, satu-satunya putri permaisuri Raja Mapanji Garasakan. Dewi Sekartaji bernama lain Galuh Candra Kirana. Dalam cerita rakyat dikenal pula dengan Keleting Kuning

Dua Raja bersaudara dari kerajaan yang terbelah ini mengatur perjodohan antara Raden Panji dan Dewi Sekartaji. Tetapi seperti biasa para calon mempelai tidak menyetujui perjodohan itu dan lari dari istana (sinetron banget). Dewi Sekartaji mungkin memang masih ‘jomblo’ waktu itu tapi tetap menolak perjodohan (kalo aku jadi sekartaji jelas mau aja dijodohin sama pangeran :P). Tetapi Panji Asmara Bangun telah menambatkan hatinya pada seseorang.

Raden Panji Asmara Bangun telah jatuh cinta dan cintanya berbalas dari Dewi Anggraini. Dewi anggraini adalah putri dari patih Kerajaan Panjalu. Raden Panji bertekad menolak perjodohan itu dan lari meninggalkan kerajaan dan tahta yang akan jadi miliknya demi cintanya kepada Dewi Anggraini

Sang kekasih pangeran yang mengetahui perjodohan kerajaan itu  galau lalu langsung bikin twit di twitter (kalo ini ngaco). Dewi Anggraini  sedih dan ketakutan dengan murka dari ayahnya sendiri dan sang raja. Akhirnya sang raja mengetahui bahwa Dewi Anggraini sebagai biangkerok yang menghalangi perjodohan politis antara sang pangeran dan putri mahkota. Mengetahui itu Raja Sri Samarawijaya memerintahkan patihnya untuk membunuh putrinya sendiri (emangnya nabi sulaeman sama ismail?). patih tak berani menentang titah sang raja tapi juga tak mampu melaksanakan perintah itu.

Maka Patih memerintahkan salah seorang pengawal kepercayaannya untuk melaksanakan titah raja itu. Sang prajurit kemudian membawa Dewi Anggraini ke hutan untuk dilenyapkan.

Dalam buku Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer Dewi Anggraini tewas dibunuh di hutan demi pernikahan politis itu. Dewi Anggraini harus mati hanya karena mencintai dan dicintai oleh Inu Kertapati.

Dongeng dengan mudahnya menghapus ketidakadilan yang diderita oleh Anggraini. Dongeng telah melupakan Anggraini sang korban dan memuja kisah cinta sempurna Panji Asmara Bangun dengan Galuh Candra Kirana. Ada darah tak berdosa tertumpah dari kebahagiaan yang mereka telan.

Kejam.Tidak adil.Pengecut

Tapi ada sebuah kisah yang hampir punah menceritakan bahwa Dewi Anggraini akhirnya menikah dengan prajurit yang akan membunuhnya. Mereka hidup di hutan jauh dari keramaian sebagai pelarian. Kisah Dewi anggraini ini pernah saya tonton dalam pementasan ketoprak yang ditayangkan TVRI

Semoga cerita yang terakhir ini benar

Advertisements

About mydamayanti

catatan seorang pelupa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

8 Responses to Penggalan Terlupa dari Cerita Panji

  1. adhi says:

    emang hubungan putri yg mau dibunuh sama kisah nabi sulaiman dg nabi ismail apa ya???
    emang nabi ismail putra sulaiman ya??

  2. durihandoyo says:

    Nabi Ismail itu anaknya Nabi Ibrahim bukan anaknya Nabi Sulaiman. Trus kalo soal Dewi Anggraini dan prajurit yang mau bunuh dia, mereka emang menikah trus menetap di sebuah hutan di kaki gunung Kawi, yang sekarang sudah jadi desa di kecamatan Wonosari Kab. Malang. Setelah mereka menikah selama beberapa bulan, Inu Kertapati berburu di hutan dekat rumah mereka dan mengetahui bahwa Dewi Anggraini telah dinikahi oleh prajuritnya itu. Lantas Inu Kertapati dan prajurit itu bertarung dan berhasil membunuh si prajurit. Kemudian Dewi Anggraini yang tidak mengetahui bahwa suaminya telah dibunuh oleh Inu Kertapati, menunggu suaminya kembali di sebuah air terjun yang sekarang dikenal dengan nama Coban Rondo di kecamatan Pujon, Kab. Malang.

      • palestio duta says:

        bacanya jangan buru-buru ,..soal ismail kan itu cuma guyonan dari penulisnya,..Dewi Anggraini kan anaknya patihnya ,sedang patihnya yg ditugasi untuk membunuh Dewi Anggraini,jadi ayahnya disuruh bunuh anaknya ,mirip Ibrahin yg disuruh Tuhan untuk bunuh anaknya sendiri Ismail.

  3. Yuli says:

    Mungkin analoginya ttg Ismail -Sulaiman agak kejauhan. Gpp. Cerita sejarah kadang dibuat berkabut agar pesan yang mau disampaikan tidak gamblang cetha wela-wela. Cerita Panji mungkin berasal dari luar Daha Kediri karena ada juga di Thailand, lalu kisah itu ditautkan dgn kisah Inu Kertapati, siapa tahu. Meski tidak menutup kemungkinan negeri sebrang yang impor kisah dari tanah kita. Dalam Candra Kirana yg dikisahkan Ayib Rosidi, Dewi Kilisuci pergi melihat Sekartaji(keponakannya) dan melihat miripnya dengan Anggraini, lalu (maksa banget) spirit Anggraini menyatu dengan Sekartaji. He he… namanya juga cerita.
    Pesannya mungkin bahwa cinta pantas diperjuangkan, tahta dan kekuasaan bukan segalanya, tetapi kadang cinta mesti dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar (bersatunya dua negara, menghindari perang). Hanya orang besar yang bisa berkorban.
    Mungkin ‘membunuh” disini adalah “membunuh ingatan tentang”, atau “menghilangkan jejak fisik”, . jadi, ya, boleh jadi Anggraini (bila ia memang ada) lalu menikah dengan pengawal yang berhasil “melenyapkan” nya dari pandangan Panji. Hm.

  4. Luka Hati.. says:

    alangkah Bahagianya laki2 yg dpt wnt sprti cintanya sang Dewi Anggraeni..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s