Mpu Sedah,Sisi Lain

Sekali lagi dari buku Pramoedy Ananta Toer berjudul Arok Dedes. Semua orang pasti sudah tahu pasti apa isi buku ini,minimal menebak apa jalur ceritanya.Ya,tentu saja berdirinya kerajaan Singosari. Tapi seperti biasa saya katakan bahwa bagian terbaik dari buku adalah detailnya,bukan alur atau endingnya. Barusan pendapat pribadi saya loh.Kali ini saya ingin mencatat lagi bagian buku itu yang menceritakan tentang kisah mpu Sedah.
YA,Mpu Sedah yang saya maksud adalah yang itu. Mpu Sedah yang menulis atau menyadur dari Mahabharata, sebuah kitab yang berjudul Bharatayudha.Bharatayudha adalah perang antara keluarga Bharata. Bharatayudha yang berbahasa jawa ini ditulis oleh Mpu Sedah atas perintah Raja Kamaesywara II atau lebih banyak dikenal dengan Jayabaya. Raja Jayabaya adalah raja kerajaan kediri yang besar yang menaklukkan Jambi dan Selat Semenanjung(Malaka). Jayabaya juga seorang yang mencintai sastra,seni dan filsafat.
OK,Kembali ke Mpu Sedah. Jadi siapakah dia?oh oh siapa dia? Sedah berasal dari sebuah desa di selatan ibukota kediri yang bernama Adiluwih (Ngadiluwih?). Sedah dikarunia otak dan kecerdasan yang sangat cemerlang meskipun dia berasal dari kaum sudra petani yang miskin. Pada usia 23 tahun Sedah telah menguasai bahasa dan sastra Sansekerta dan Jawa, sesuatu yang sangat langka pada masanya (masa sekarang juga kale). Mungkin pada masa kini sejenis orang yang lancar berbicara 17 bahasa dan hapal seluruh isi wikipedia, ada kan? Selain cerdas, Sedah juga tampan bertingkah laku baik dan sesuai dengan pengetahuan yang dikuasainya Sedah juga bertutur bahasa halus dan indah sehingga jadilah dia sang pujaan wanita.
Di sebuah desa tetangga hiduplah seorang gadis yang cantik bernama Prabarini. Kecantikannya menawan dan menghancurkan hati banyak laki-laki. Bisa diduga takdir mempertemukan Prabarini dan Sedah dalam cinta. Mereka saling mencintai dan berjanji setia sampai mati. Sepeti umumnya kisah dalam dongeng mereka hidup bahagia penuh cinta meski tanpa gelimang harta. Belum, kisah sedah belum berakhir, ini bukan dongeng biasa yang diakhiri dengan lives happily ever after.
Banyak yang kecewa dan tersakiti oleh kebahagiaan Sedah dan Prabawati. Laki-laki dan perempuan yang patah hati karena cintanya ditolak. Salah satu dari mereka tak sudi menelan sakit hatinya begitu saja. Dengan kobar dendam dilaporkannya pada Sri Baginda Raja Jayabaya bahwa di desanya ada wanita dengan kecantikan luar biasa penjelmaan Dewi Setyawati. Sri Jayabaya sang raja yang menghendaki segala yang terbaik menjadi miliknya memerintahkan pasukannya untuk menjemput Setyawati Kediri. Singkat cerita Prabarini tertawan dalam istana kerajaan dan Sedah yang kecewa seorang diri di desanya, Adiluwih (Ngadiluiwih?)
Sepanjang waktu siang dan malam sedah tercekam kesedihan dan kesunyian tanpa kekasihnya. Hidup yang dijalaninya terasa kosong.Demikian pula Prabawati yang hidup dalam sangkar emas hidup merana tanpa Sedah. Maksud hati ingin pergi menemui pujaan hati namun apa dayanya sebagai perempuan rapuh dalam kungkungan tembok istana Kediri.
Siang dan malm keduanya berdoa kepada Dewa Wisynu agar menemukan kembali cinta mereka.Setiap doa mereka adalah kerinduan kepada kekasihnya. Ketika harapan itu tampak mustahit terwujud ketika doa-doa seakan tak pernah terjawab muncullah peristiwa itu.
Sri Baginda Jayabaya ingin mengabadikan kemenangannya atas Jambi dan Selat Semenanjung dengan menterjemahkan 6 Parwa Mahabharata kedalam Bahasa Jawa. Tak seorangpun pujangga istana yang mampu melaksanakan tugas berat itu termasuk Mpu Panuluh. Maka diperintahkanlah untuk mencari seorang ahli Bahasa Sansekerta dan Jawa di seluruh penjuru Kediri.Mendengar berita itu berangkatlah Sedah ke Ibukota Kediri berbekal kemampuannya, kerinduan dan dendamnya.
Dengan mempertaruhkan lehernya Sedah berjanji sanggup menterjemahkan 6 parwa Mahabharata. Setelah meyakinkan dewan penguji dalam sidangnya ia lulus dan dikalungi rangkaian melati oleh Sri Baginda Jayabaya sendiri.Sedah bekerja keras seorang diri menterjemahkan Mahabharata dengan cepat. Sang Raja mulai menyukainya karena kecerdasannya itu
Kemudian sampailah ia pada bagian Salyaparwa yang menceritakan kecantikan Dewi Setyawati istri Salya. Maka Sedah melaporkan kepada Baginda bahwa ia tak mampu melukiskan kecantikan luar biasa Setyawati yang pada cerita sebenarnya sudah tidak terlalu cantik lagi. Sedah meminta seorang wanita sesungguhnya dengan kecantikan luar biasa sebagai contohnya. Baginda menitahkan kepada Sedah untuk memilih wanita yang dibutuhkannya dan pilihannya jatuh pada Prabarini dan Baginda membenarkan pilihan itu.
Maka terjadilah pertemuan yang telah lam diimpikan itu. Berbulan-bulan mereka sering bertemu dan melepaskan kerinduan hingga muncullah seorang yang menyaksikan kebersamaan mereka.
Baginda Jayabaya menjatuhkan hukuman mati bagi Sedah yang baru berumur 25 tahun. Sedah menolak berlutut untuk dipancung.Ia berdiri dan tersenyum ketikan dipancung.sebelum kematiannya Sedah mengatakan bahwa Pra barini adalah miliknya selamanya dan Jayabaya hanya memiliki tubuhnya,bukan hatinya
Sedah mati tanpa penyesalan dan tak pernah memohon ampunan pada Jayabaya

Pfiuh…selesai

Advertisements

About mydamayanti

catatan seorang pelupa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Mpu Sedah,Sisi Lain

  1. christian sedah pambayun says:

    AKu selalu suka cerita mpu sedah seperti org tua yg memberikn namaku sepertinya dgan sifat2 baik mpu sedah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s