Evanescence = Ben Moody + Amy Lee

Album Fallen yang diluncurkan pada awal 2003. Saya mulai tahu dan suka sejak lagu Bring Me to Life menjadi soundtrack Film Daredevil yang tidak sukses itu. Padahal Debut mereka sudah dimulai sejak 1998.Bagi saya Album Fallen Evanescence enak didengar dan keren di kuping saya. Meskipun dianggap sebagai band rock Kristen dan hal ini jelas sekali terdengar dari tambahan music-musik gospel pada lagu-lagunya saya tetap mendengarkan dan menyukainya. Hanya saja saya tidak bisa mendengarkan lagu ini bersama banyak teman dan terutama keluarga saya sendiri. Keluarga saya adalah keluarga Islam NU yang taat. Apapun yang mengandung Kristen dan PKI mereka anggap tabu. Tapi mengapa tidak berlaku bagi hal-hal yang mengandung kehinduan dan kebudhaan (kata-kata yang dipaksakan)?

Evanescence didirikan oleh Ben Moody dan amy Lee pada 1998. Berawal dari pertemuan mereka pada sebuah camp musim panas. Mereka menemukan banyak kesamaan minat musik. Saat ini anggota Evanescence terdiri dari Amy Lee (Vocal), Tim McCord (Bass), Terry Balsamo (Gitar), Will Hunt (Drummer)

     

Namun pada 22 Oktober 2003, Moody secara tiba-tiba meninggalkan band ini, padahal sedang berada di tengah-tengah tur Eropa. Alasannya mula-mula yang dilaporkan karena mereka mengalami “perbedaan secara kreatif.” Namun pada sebuah wawancara beberapa bulan kemudian, Amy Lee berkata: “Kami mencapai suatu titik dimana jika tidak sesuatu halpun berubah, kami tidak akan bisa membuat album kedua.” (dari Wikipedia)

Setelah album Fallen dan setelah kepergian Ben  saya tak lagi banyak mendengarkan lagu Evanessence karena berbagai macam hal. Beberapa lagu yang sempat saya dengar adalah dari album The Open door (2006). Tapi entah kenapa tak seperti album Fallen saya tidak begitu menikmati The Open Door, kecuali  lagu Lithium yang sempat hits. Saya kira saya telah mengalami pergeseran selera bahkan ketika tempo hari tanpa sengaja saya temukan hits terbaru Evanescence (mungkin judulnya What You Want) di MTV saya masih tak berselera.

Sampai weekend kemarin saya menemukan kembali memutar kaset yang saya beli sewindu yang lalu. Saya dengarkan berulang-ulang dan masih sangat-sangat menikmatinya. Saya ketagihan (lagi) dan mencari versi MP3-nya.Pencarian ini tanpa sengaja membuat saya menemukan lagu-lagu sebelum album Fallen baik dari album Origin atau single misalnya Solitude, Surrender, Forgive Me, The End dan I must be Dreaming juga yang lainnya. Ternyata saya masih menyukai lagu-lagu itu. Lagu-lagu yang masih nyambung dengan kuping saya.

Otomatis lagu-lagu sebelum dan selama kemunculan Fallen dibuat dan dinyanyikan dengan Ben Moody di dalamnya. Pada fase itu lagu-lagu Evanessence terdengar kelam, megah, kuat sekaligus indah dan manis. Ada luapan kesedihan dan amarah dalam nada-nada penuh kesengsaraan tapi bersemangat. Juga keindahan tutur bahasa yang bermakna dalam seakan-akan merupakan kata-kata terakhir untuk dinyanyikan. Lagu-lagu yang dibuat Moody dan Lee seakan bisa membawa pendengar pada emosi setiap lagu itu. Pendengar yang sedang ingin membunuh seakan telah menggengam pisau berlumur darah ketika mendengar lagu-lagu ini. Pendengar yang terlalu sedih dengan hidupnya seakan telah lepas sukmanya dan mengembara di dalam gelap malam

Setelah kepergian Moody, terasa sekali ada sesuatu yang hilang dalam music evanescence. Meskipun lirik dan nadanya masih terdengar kelam dan bersemangat, ada sesuatu yang hilang dari kelam itu. Perasaan dingin telah hilang, tinggal bara api yang meluap-luap dalam amarah. Kemegahan itu telah luruh tinggallah sesuatu yang besar dan dahsyat. Tidak terdengar manis, tidak terasa indah di kuping saya.Hambar. Mungkin bisa disamakan dengan masakan daging yang amis karena kurangnya rempah-rempah.

Disamping itu saya juga mendengarkan album Ben Moody yang berjudul  All For This (2009). Saya mencoba menemukan apa yang saya temukan pada Evanescence tapi yang saya temui adalah sesuatu yg sangat berbeda. Musik yang terlampau manis. Lagu cinta yang mendayu-dayu meskipun dikemas dengan suara dan music yang keras. Lagu perfect yang agak nyambung di kuping saya rasanya lebih cocok dinyanyikan oleh spice girls atau westlife dengan nada yang lebih ngepop. Saking tidak tahannya sampai-sampai saya menghapus file album ini (ada alasan non teknis lain juga sebenarnya)

Kesimpulan saya, Ben Moody tanpa Amy Lee seperti kehilangan spirit, semangat dan kekuatan. Redup pucat seperti rembulan karainan. Sedangkan Amy Lee tanpa Ben Moody terdengar seperti bara api yang menyala berkobar-kobar membakar segalanya tanpa kendali. Evanescence seharusnya Amy Lee + Ben Moody yang seindah cahaya bintang di kegelapan(lebay). Bagai bangunan Gothic abad ke-12. Kelam Dingin tapi tetap megah dan indah. Moody+Lee I hope they’ll be back together again.

😦

Advertisements

About mydamayanti

catatan seorang pelupa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 Responses to Evanescence = Ben Moody + Amy Lee

  1. mydamayanti says:

    februari 25th 2012
    OMG!!!

  2. shinta says:

    len len habsi baca ini blogmu yak?
    shinta 😀

  3. Shinealways Shining says:

    Ea aq juga rasakan hal yg sama dn jg aq masi bingung knp kduanya pisah, seakan ad alasan trsmbunyi yg tertutup. Dn aq bru sadar sma smua ny, bhwa irama dn suasana yg tnang mencekam it bkn lah murni dr jiwa amy lee, hmm sedih dn bingung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s