Berkurangnya Ketajaman

Mendapatkan seorang teman kost baru yang sangat penakut membuat saya berpikir tentang ketajaman indera (atau lebih tepat disebut perasaan ya?). Teman kost saya yang baru ini ke kamar mandi sendiri yang letaknya di lantai 1 saja tidak berani. Jadilah saya momong teman kost yang kira-kira hampir setengah meter lebih tinggi dari saya(salah saya yang hobbit sized)

Sewaktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar desa saya belum memiliki fasilitas listrik dari PLN. Penerangan menggunakan lampu minyak.Ketika itu harga minyak tanah dan BBm lainnya di Indonesia masih lebih murah dari air mineral yang masih menjadi barang mewah bagi penduduk desa. tanpa adanya listrik bisa dipastikan ketika malam tiba suasana jadi remang-remang hanya diterangi cahaya bulan (oh God I miss moments like that). seingat saya ketika masih eSDe saya sering melihat selintas bayangan lewat.Bukan selintas karena banyak sekali bayangan putih melintas yang terlihat dari sudut mata saya tetapi ketika ditengok tak ada apapun ataupun siapapun yang lewat. Dahulu hal itu membuat saya yang masih bocah takut. Tak pernah saya ceritakan hal ini pada siapapun tentang hal ini, takut ditertawakan atau dianggap penakut.Sekarang saya penasaran apakah para mantan bocah lain pernah mengalami yang saya alami ini  ataukah saya yang tidak normal? Tapi entah sejak kapan saya tak ingat, Saya hampir tidak pernah melihat bayangan melintas dari sudut mata saya. Hanya sesekali saja, mungkin setahun sekali ketika saya sedang ketakutan tanpa alasan.

Berikutnya ketika saya masih duduk di Taman Kanak-kanak mungkin saya pernah beberapa kali mendengar orang bicara pada saya tapi saat itu tak ada seorangpun di dekat saya. Kadang ketika saya hanya sedang bersama ibu saya saya mendengar ada suara laki-laki berbicara pada saya. Karena ketakutan saya tak pernah menjawab suara-suara itu. Saya hanya ketakutan kemudian lari dari tempat itu atau berpegangan erat-erat pada tangan ibu saya. Bersyukur,sekarang tak pernah lagi mendengar suara seperti itu. Mungkin masih tapi saya mengabaikannya karena saya sering bicara dengan diri sendiri, jadi suara itu saya anggap suara saya sendiri.sinting.

Sejak kecil saya biasa sendiri. Bukan karena suka kesendirian ataupun jenis penyendiri itu karena saya anak tunggal dan rumah saya agak terpisah dari rumah-rumah lain. Alasan lain karena tetangga sebaya saya laki-laki semua.Pada saat itu anak perempuan tidak berteman dengan anak laki-laki. Berbeda dengan anak-anak zaman sekarang yang sudah diajari dan pandai berpelukan dan berciuman sejak masih BALITA. Saya berangkat dan pulang sekolah yang jaraknya kira-kira 2-3 KM den gan naik sepeda mini.Sendirian. Beberapa tempat dalam perjalanan antara rumah dan sekolah yang dianggap “wingit”  pada waktu itu karena sering ada “penampakan” atau “fenomena”. Pada jam 12 Siang jalanan selalu sepi nyenyet tak ada yang lewat kecuali saya, satu-satunya anak sekolah yang melewati jalan itu. Teman-teman yang lain tidak searah dengan saya.  Di tempat “wingit” itu sering saya ‘diganggu’. Sepeda yang saya naiki digoyang-goyang bagian belakangnya hingga saya hampir jatuh. saya tak berani menengok ke belakang karena saya tahu pasti tak ada terlihat atau terdengar ada orang lain di situ. Saya takut menengok dan melihat ‘sesuatu’ (bukan sesuatu versi syahrini). Ketika hal itu terjadi biasanya saya membaca bismillah dalam hati. Hasilnya? Subhanallah yah (syahrinem), goyangan itu berhenti lalu saya langsung kayuh sepeda saya kencang-kencang. Tentu saja pengalaman itu tak pernah terjadi lagi karena jalanan sudah ramai dan saya sudah hampir tak pernah bersepeda di tengah hari sendirian melewati tempat wingit.

Saat saya memasuki bangku SMP lain lagi ceritanya. Bukan tentang ‘fenomena’ tapi tentang ketajaman perasaan saya. Dimana-mana masa SMP adalah masa ketika Bullying menjadi kebiasaan bahkan trend. Bullying terjadi juga di pelosok seperti SMP saya. Pada saya. Saya anak petani miskin desa yang sama-sekali tidak cantik bahkan jelek karena tinggi saya jauh dibawah rata-rata. Fisik adalah alat dan sasaran bullying yang umum terjadi. Pernah suatu ketika seorang teman dari kelas lain yang tidak terlalu saya kenal menghina saya tanpa alasan dan pembukaan. Sesaat saya bingung, hanya diam dan menyumpah dalam hati.Saya sudah lupa apa yang saya ucapkan tapi beberapa bulan atau tahun kemudian penghina itu mati karena kecelakaan lalulintas. Di lain waktu ada teman lain yang menghina saya entah kenapa. Sama. Teman ini  mengalami kecelakaan lalulintas terlempar dari atas jembatan, koma, dirawat berbulan-bulan meskipun akhirnya sembuh. Seorang teman sekelas di kelas 3 pernah menghina saya dan teman sebangku tanpa sebab. Saya sangat marah dalam hati. Ketika duduk di kelas 1 SMA si penghina yang 1 sekolah lagi dengan saya mengalami kecelakaan hingga koma dan terganggu kecerdasannya. Saat ini sudah sembuh dan baru saja menikah.

Hal seperti itu tak pernah lagi terjadi. Mungkinkah karena tak ada lagi bullying? Karena semua orang baik pada saya? Ataukah sakit dan amarah saya tak lagi cukup kuat untuk membalaskan dendam saya?Apakah karena semakin bertambahnya umur ketajaman indra berkurang? Ataukah terlalu banyak dosa hingga kutukan saya tak mempan? ah…. apa yang bisa dibanggakan dari membalas dendam hingga ada yang tewas? Saya memang kejam ya? Hantu aja udah males nyamperin saya. Mungkin saking bebalnya sampe mereka ill feel.

Sudah. sekian saja racauan saya.markiti

Advertisements

About mydamayanti

catatan seorang pelupa
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s